Kenapa bayar pajak di indonesia tidak digital luar negeri

 Aneh banget, ya. Kenapa sih, bayar pajak di Indonesia ribet banget? Di luar negeri, orang tinggal scan barcode, nggak perlu ribet cari-cari KTP pemilik segala.

Coba deh lihat, di Indonesia, niat baik orang buat taat bayar pajak kendaraan sering mentok gara-gara aturan KTP asli. Sementara di banyak negara maju, bayar pajak kendaraan tuh sama gampangnya kayak bayar listrik atau beli pulsa.

Beda banget sama di sini, sampai bikin iri warganet +62.

1. Jepang & Korea: Cukup ke Minimarket

Di Jepang sama Korea Selatan, nggak ada tuh cerita harus pinjam KTP pemilik lama. Pemerintah kirim surat tagihan ke rumah, ada barcode-nya. Warga  bawa kertas menuju minimarket mirip 7-Eleven dan Lawson—kasir scan, bayar, beres. Nggak ada drama ditanya “Mana KTP aslinya?” Yang penting duitnya masuk ke kas negara.

2. Singapura & Australia: Auto-Debet, Santai di Rumah

Di Singapura sama Australia, sistemnya malah lebih canggih. Ada portal resmi kayak OneMotoring atau aplikasi pemerintah, tinggal bayar online, bahkan bisa diatur auto-debet dari rekening tiap tahun. Rasanya kayak bayar langganan Netflix aja.

3. Denmark & Finlandia: Serba Digital

Di negara Skandinavia, surat tagihan fisik udah jarang banget. Tagihan pajak masuk langsung ke e-invoice di bank warga. Tinggal klik “Bayar”, satu menit juga kelar.

Tapi di Indonesia? Lucunya, mau bayar kok malah dipersulit. Banyak pengamat bilang, kalau aja Indonesia ngikutin sistem kayak gini—nggak usah ribet soal KTP buat pajak tahunan—pendapatan daerah bisa naik gila-gilaan.

Sekarang, jutaan kendaraan di Indonesia “mati pajak” bukan karena pemiliknya nggak punya uang, tapi karena males ribet ngurus KTP atau biaya balik nama yang mahal. Akhirnya, negara sendiri yang rugi, kehilangan triliunan rupiah cuma gara-gara aturan administrasi yang terlalu kaku.

Post a Comment for "Kenapa bayar pajak di indonesia tidak digital luar negeri "